Lights Off.

meniup lilin



Rewriting my old, cheesy, but joy-readable at least for myself. Written in January, 22 2014. I found it on “shortstory” folder in my Vaio. Folder yang isinya tulisan-tulisan alay, yang sekarang udah nggak pernah banget dibuka apalagi diisi. Shocked. Kaget waktu nemu file ini. Idk I just shocked. Kok aku bisa nulis segampang ini di tahun itu? Tulisan anak kampus yang ternyata (bagiku) masih enak dibaca. Padahal sekarang, people paid me word by word. Ya, aku mulai senang mendalami kepenulisan. Still learning gimana caranya biar tulisanku enak dibaca. Tapi dulu, waktu aku masih semuda ini, aku nggak ada ilmu sama sekali. Nulisnya ngalir. Sekarang? Pft okay lemme try to rewrite. A lil bit revisions but no edit in whole content. Belum pernah terbit di media manapun. Daripada sebatas menuhin storage on-premise, mending rewrite and post it. Hope it better!

❣❣❣

Besok UTS!
UTS like seriously. Iya, besok UTS. Tapi malam ini cuacanya lagi nggak bersahabat. Sama sekali. Di luar rumah, lagi ada perlombaan sengit antara hujan dan petir. Nadanya harmonis. Seandainya aku musisi, mungkin aku udah bikin lagu yang instrumennya kurekam dari suara-suara ini. Hujan sama petir lagi caper, kode keras banget kalau mereka pengin dilihat. Buktinya, listrik di rumah sampai mereka matikan. Tetangga, orang rumah, termasuk aku disibukkan sebentar buat cari lilin-lilin kecil dan lampu pijar. Malam ini hujan deras. Tapi aku tetep harus belajar demi masa depan yang lebih cerah. Pret. Padahal cuma demi IPK nggak jebol karena besok UTS.

Anyway, inilah kisahku yang kuabadikan lewat foto. Segelintir foto ini menjadi saksi kalau aku nggak gabut-gabut banget waktu mati listrik.

lilin

Sebagai pemotret pemula, ternyata aku baru tau kalau ngefoto lilin itu ada tekniknya. Ini pakai kamera Fujifilm FINEPIX HS30 EXR. Caranya setting ke manual, utak-atik speed, aku pakai 1/6, dan jadilah foto bagus (lagi-lagi at least for myself) yang cuma fokus ke nyala lilin. Sisi lainnya gelap. I dare you to did it too!

mati lampu

And that’s it. My stuff while studying Metode Penelitian Sosial, sebuah mata kuliah yang sebenernya aku nggak paham-paham banget. Makanya daripada besok waktu UTS nilaku anjlok, aku usahain aja buat belajar sedikit. Eh, taunya mati listrik. Bukan takdirku buat memahami MPS kali ya, atau yah, yaudahlah difoto aja. Ada lilin yang masih menyala, binder, fotokopian materi yang entah akan kupahami atau justru semakin membingungkanku, buku penunjang yang belinya urunan sama si dia, tisu, tasbih, ballpoint, dan tas yang cuma sebagai pemanis.

Wait, jangan kira aku ahli ibadah karena ada tasbih di sana ya. Aku emang lagi habis shalat dan kebetulan aja males balikin tasbih yang tadinya tergantung di kusen pintu kamarku.

“Hoalah sabar ya yang, semeru :’) wkwkwk”

[picture of text in SMS here, but I can’t insert & upload it right now]

Aku select sepenggal chat dari dia yang turut menemani my lights off night. Ejekannya sangat bermanfaat. Padahal kami satu kota lho, tapi di rumah dia nggak mati lampu. Bisa gitu ya? Padahal rumahku ini bisa dibilang lebih tengah kota daripada rumahnya. Itu adalah cuplikan chat dia untukku yang berhasil kuabadikan lewat kamera. Bukan pakai screenshot meskipun smartphone-ku udah bisa melakukannya.

Kami masih memegang teguh pacaran via SMS. Meskipun, media chat berbasis kuota udah lagi umum. Aku bersyukur punya dia, bayangkan kalau kami komunikasinya via WhatsApp, LINE, atau apapun itu, aku pasti udah kesepian. Aku tipikal orang yang fakir wifi. Hampir nggak pernah beli paket data kecuali aku sedang di luar kota.

Ah ya, teksnya bener-bener kelihatan jelas. Kalau pakai kamera Fujifilm FINEPIX HS30 EXR, set ke SP1 lalu pilih text. Itu serius, fokusnya ke tulisan biar tulisannya kelihatan lebih tajam. Nggak ada blur padahal cahaya layar hape seharusnya jadi noise. Keren kan kameraku? not totally mine sih, ini kamera yang dibelikan Ayahku.

[picture of me here, but I can’t insert & upload it right now]

And here I’m, gadis 19 tahun yang sedang sedikit menderita di malam yang penuh natural flash ini. Teknik pengambilan gambar secara swafoto. Pakai setting manual plus flash on, karena dalam kondisi gelap gulita jadinya flash harus on. Iya tau kok, mukanya kulu-kulu gitu. Eh tapi manis, kan? Walaupun ada jerawat kecil nyempil di bawah senyuman, tapi kurasa sama sekali nggak mengurangi level manis senyumannya. Iya tau kok (2), aku terlalu pede. Udah biasa aja, nggak usah lama-lama gitu ngelihatinnya.

Nggak beberapa lama kemudian…
Ehm. Ya lama sih sebenernya. Haish pokoknya kemudian, listriknya nyala. Begitupun dengan lampunya. Set flash off di kamera. Foto lagi dengan angle menghadap ke diri sendiri. Sedikit pose yang aduhai nggak seksi sama sekali, kayak gini:

[picture of me here, but I can’t insert & upload it right now]

Turn off the lights, but I’m on in the dark.
Listriknya udah nyala. Seharusnya jadi enak belajarnya. Tapi faktanya? Aku malah disibukkan sama games. Perhatianku malah teralihkan dari buku ke laptop dan berkahir di tulis-menulis macem ini. Belajarnya? Err… nggak tau. Emang kan, manusia itu sifatnya ya gitu. Seringnya kalau udah dikasih yang enak-enak, jadi lupa diri. Get it? Ya yaudahlah pasrah aja sama UTS MPS besok. Sekian dan wismilak for my mid-test tomorrow!

❣❣❣

How? Simple, jujur, dan polos banget. Pardon kalau aku nggak mau insert & upload 3/5 fotonya. Soalnya, Januari 2014 aku belum berhijab dan si dia di cerita itu sekarang udah tinggal cerita. Tulisan itu sebenernya mungkin lebih ke menceritakan fitur-fitur kamera dengan cara ngasih tau hasil jepretan. Ditambah gimmick asmara yang membuat tulisan itu seperti makin hidup. Sekedar cerita tentang, hm, mungkin sekitar satu jam di momen mati listrik. How cute the old me. Yes I genuinely know lagi-lagi aku memuji diri sendiri. But these writings just fucking damn slap me:


nulis itu ngalir aja, masalah enak-nggak enak dibacanya nanti bisa direvisi.

Hm-hm, the easy old time I already miss.

No comments:

Post a Comment