Plong

couples city lights


Malam ini agak beda. Orang di sebelahku ini udah lama aku kenal. Tapi kalau aku bilang lama, sebenernya itu relatif. Baru dua tahun lebih beberapa bulan sih, mungkin bagi beberapa orang waktu dua tahun itu belum cukup lama. Mungkin saking dekatnya, bagiku dia udah ada cukup lama di hidupku. Kulitnya sawo matang, lumayan kekar, nggak kurus dan nggak gemuk juga, tingginya mungkin sekitar 180 cm, tapi kalau diukur dari sini sih ya palingan cuma selisih lima senti denganku.

Kalau lagi di dalam sini dan lagi sama aku, pilihannya nggak berubah. Meskipun udah ada flashdisk hitam kecil yang dicolokin ke tape, muternya tetep radio. Suara penyiarnya masih akrab di telingaku. Waw. Udah dua tahun lebih, si penyiar ternyata tetep setia sama pekerjaannya. Kupilih volume di angka 3 yang artinya suara dari dalam situ kerasnya cukupan. Sedang mengudara lagu dari Dewa 19 yang judulnya Kangen. Aku nggak hafal sama jadwal program channel radio ini, tapi tiap kali aku di sini, selalu lagu-lagu lawas yang keputer. Anyway, kenapa harus Kangennya Dewa sih? Kan, lagu ini pernah kami bawakan waktu karaoke dulu. Ah.

Mesin beroda empat ini berhenti di tempat yang aku nggak asing. Kami, lebih tepatnya. Sebuah pemandangan city lights yang masih menjadi favoritku. Tempat ini nggak terlalu tinggi sebenernya, tapi ya bisa dibilang puncak. Soalnya, dari sini hiruk-pikuk suasana kota di malam hari terlihat samar, hanya kelap-kelip lampu putih dan kuning yang menyemut. Tempat ini pun masih sama. Nggak pernah sepi. Asap puthu yang mengepul, bau mie goreng yang surgawi, gesekan sendok pada cangkir dari ibu-ibu penjual kopi, dan bau bakaran jagung yang meluap-luap. Di depanku, banyak muda-mudi duduk dan menikmati hidangan pilihannya masing-masing. Ehm, memang aku setua apa sampai aku menyebut mereka muda-mudi? Aku juga muda, tapi bersama orang yang mengajakku ke sini hari ini, rasanya kami kurang pantas disebut muda-mudi.

Bangku favorit kami udah ada yang mengisi. Kami cuma saling pandang dan nggak melihatnya sebagai masalah besar. Time flies. Rupanya masing-masing dari kami udah mulai mendewasa. Persoalan duduk di bangku itu yang dulu pernah kami perjuangkan mati-matian, err nggak sampai mati juga ding, sekarang hanya dilirik dengan satu senyuman pasrah. Iya, nggak apa-apa.

“Nggak mau di sini ah”
“Nggak ada lagi, Bi. Udah deh jangan manja”
“Tapi kan kotor, Mas. Nggak ada bangku lain kek?”

Bukan bangku yang tersisa, melainkan semacam bhuk yang mungkin, mungkin lho ya, mungkin, akan membuat celanaku kotor kalau aku duduk di sana. Ehm, harusnya aku nggak semanja ini sih. Hijab navy, sweater mocca, dan jegging agaknya nggak bakal kotor sekalipun aku duduk di sana. Beda sama dia, kaos hitam polos yang didobel parka navy dan celana jogger berwarna khaki. Seharusnya dia yang manja karena outfitnya malam ini cenderung gampang kotor kalau kami duduk di sana.

Dia melengos dan mengambil posisi duduk selonjor. Oh, jadi keluhanku hanya angin lalu. Aku tahu tangannya membersihkan tempat di sebelahnya yang rencananya menjadi tempat dudukku. Kuangkat kedua bahuku, bersiap dua kali istirahat di tempat, kemudian kuambil tisu basah dari dalam tas untuk membersihkan tangannya. Bukan. Ini bukan adegan mesra kok. Dia bersihkan tangannya sendiri. Aku mana mau repot-repot buat sekedar bersihin tangannya.

couples sit city lights

Mataku mulai melakukan mode panorama. Memandang sekeliling, panning dari kiri ke kanan. Asli, city lights ini bikin aku tiba-tiba kangen suasana kota ini. Lah, padahal aku udah lagi di sini lho. Tapi kok bisa kangen sih?

“Nggak berubah ya”
“Iya, aku juga kaget ini nggak ada perubahannya”
“Lah, jarang ke sini?”
“Ehm, terakhir ya pas sama kamu itu sih”
“It’s been two years already… really?”
“Aku ngapain sih ke sini, kayak kurang gawean”
“Iya iya, bussy man banget nih sekarang”
“Hhh… aammiin”

Ternyata frekuensi kunjungan kami masih sama, kali pertama aku ke sini ya sama orang ini. Dia, sama.

“O nggih, salap ten mriki mawon, Buk”
“Nyuwun sewu nggih, Mas”
“Monggo, Buk”

Oh ternyata pesanan kami udah datang. Tempat ini cukup aneh. Kalau boleh dibilang, ini tradisional. Desain tempatnya lebih ke ndeso. Setting jadul gitu lah. Orang-orangnya juga berpakaian alakadarnya. Tapi yang bikin aneh, ada menu greentea latte di sini. Freak nggak sih? Tapi aku suka. Meskipun rasanya nggak sepekat di kafe favoritku, bagiku greentea latte di sini not bad, ya 7/10 lah. Dia, pesan teh tawar hangat dan jagung bakar rasa manis. Seperti biasa, lagi.

“Maturnuwun, Buk”
“Nggih Mbak, sami-sami”

Aku melempar sedikit senyumku ke Ibu itu. Beliau menatapku heran. Dugaanku, mungkin beliau merasa mengenalku. Bisa jadi, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk memudarkan ingatan seseorang. Beliau terus saja menatapku dengan pandangan seolah kenal-nggak kenal. Aku juga sedang malas menjelaskan. Lagian, aku belum tahu apakah ini terakhir kalinya aku berkunjung ke sini atau masih akan ada kunjungan-kunjungan lainnya.

“Yakin cuma green tea aja? Aku pesenin puthu deh”
“Nggak ah, ntar aja kalau laper”
“Gimana? Masih sama juga?”

Aku baru saja menyeduh greentea latte hangatku. Ekspresiku sebenernya biasa aja. Tapi karena ditanyain gitu, aku jadi auto-senyum. Dia pasti tahu, kalau rasanya emang nggak seperti greentea latte pada umumnya. Tapi tiap ke sini, nggak ada minuman lain yang kupesan selain ini. Aku pun nggak pengin cobain yang lain.

“Masih”, jawabku pendek.

“Bi, aku mau ngomong. Tapi tunggu aku nghabisin ini dulu ya”, ucapnya sambil makan jagung bakar. Sebenernya aku rada susah sih nge-translate-nya.
“Apaan sih, habisin dulu baru ngomong”
“Ehm, enak Bi”, dia ngomong gini sambil kedengeran krauk-krauk kecapannya memakan jagung bakar.
“Ngelihatnya aja udah kenyang, Mas”

Kali ini, dia coba berhenti makan sejenak di sela-sela dia bicara.

“Kamu masih nggak mau makan malem?”
“Nggak juga sih”
“Badanmu udah sebiting itu, masa masih diet aja sih?”
“Mana ada biting 45 kilo, Mas”
“Ehee.. tapi lucu kok. Gemesh”
“Tuh kan bilang aja aku gendut!”
“Enggaaaaa”

Aku sedikit memonyongkan bibirku. Meraba lengan dan pipiku, meragukan soal biting yang sempat dia singgung. Nggak ah, bagiku aku masih gendut. Ah udahlah, kalau bicara soal bodyshape nggak ada ujungnya. Karena bodyshape goals bukan aku banget. Aku mah asal sehat dan terlihat kurus kalau di foto, kelar urusan. Soal langsing seksi bahenol tinggi semampai, ngimpi!

Kembali ke city lights, aku nggak ada bosen-bosennya menatap kagum pandangan di depanku detik ini. Aku membawa smartphone, tapi entah kenapa aku nggak pengin mengabadikan di instastory, gallery, atau media sosialku lainnya tentang God’s creatures ini. Ehm, btw city lights itu God’s creatures bukan sih? Tau ah. Pokoknya ini bagus banget. Shareable, tapi lebih enak kalau dinikmati langsung. Sendirian. Eh, berdua sama orang di sebelahku ini juga boleh sih. Sama-sama syahdunya.

“Aku suka kamu, Bi”

Kepalaku berputar 90 derajat ke arahnya. Kali ini, mata kami benar-benar bertabakran. Kalem. Dan dalem. Mata itu. Mata yang pernah membuatku nggak bisa tidur semalaman. Mata yang juga pernah membuatku senyum seharian. Mata itu. Dan, tatapan itu. Kami saling menatap dalam-dalam. Tapi, sedetik kemudian aku merasa jauh. Ternyata ada yang berubah. Ada yang beda. Ada. Ada. Ada yang berubah. Perasaanku. Perasaanku yang nggak lagi sama. Perasaanku yang entah kenapa, kali ini biasa aja. Mata itu nggak lagi membuatku merasa hangat. Mata itu nggak lagi memelukku.

“Hm”, aku mengangguk sambil tetap memandangnya. Matanya. Seluruh raut wajahnya. Wait wait, kayaknya dia habis cukur kumis deh, kok aku baru sadar sih. Tapi ini bukan momen yang tepat untuk bahas-bahas kumis.
“Aku cuma pengin bilang aja. Aku takut nggak sempet bilang”
“Iya Mas, aku tahu”
“Tahu apa?”
“Ya tahu kalau Mas suka aku”
“Tahu dari mana?”
“Ya tahu, Mas”

Pengakuan itu ngalir gitu aja. Aku santai. Karena toh emang nggak ada yang harus di-highlight, batinku.

“A couple weeks from today, aku berencana ngelamar dia”
“Nice, aku seneng dengernya Mas. Akhirnya Mas berani ngelamar dia”

Obrolan ini tetap santai, nggak ada ekspresi berlebihan diantara kami.

“Kamu… tahu?”
“Tahulah”
“Tahu dari mana?”
“Ya tahu, Mas”

Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku, mencoba melakukan self-warming karena ternyata angin udah lebih dingin.

“Aku tahu kalau Mas suka sama aku, makanya meskipun dulu aku suka iseng godain Mas, aku juga kadang-kadang ngehindar, jaga jarak. Aku takut Mas kelewat baper”
“Yeeeh, kamu kali yang baper”
“Apaan, buktinya Mas suka aku, kan?”, mulai kan. Aku mulai menggodanya lagi.

Dia sedikit membenarkan posisi duduknya, bergeser sedikit lebih dekat menujuku.

“Hhh… Aku seneng kamu nggak kaget”

city lights

Beberapa detik kami terdiam. Aku, dan mungkin kami, sangat menyukai suasana ini. Malam seribu bintang, masih ditambah penerangan dari lampu kota, semilir angin dingin yang masih bisa diatasi. Kadang aku mikir, orang-orang di bawah sana pada ngapain ya, mereka kecil banget, mobilnya aja kecil kalau dari sini. Ya, meskipun aku tau, kami yang di atas sini kalau dilihat dari bawah sana juga pasti kecil. Just a little life lessons, if you understand. Seriusan, suasana ini nggak bakal bisa kebeli. Mana sekarang udah jarang banget lagi ke sini, hampir nggak pernah malah. Malam ini tetep syahdu. Ya, syahdu. Mungkin pemilihan kataku terkesan berlebihan. Tapi aku lagi miskin kata untuk mendeskripsikan malam ini, hawa ini, tempat ini, detik ini, apalagi orang ini. Dia berjarak sejengkal di kananku, aku senang.

“Mas, lagian siapa sih yang nggak suka aku?”
“Ahah…”, tawanya. Sedikit dan ringan, suaranya nge-bass, tapi kalau giggles gini ya tetep ada lucunya.
“Iyalah, siapa coba yang nggak suka kamu”, katanya menimpali candaanku tadi.

Aku mesam-mesem kepedean.

“Tapi kamu sih, berharapnya disukai sama orang yang nggak bisa tahu kalau kamu itu pantas disuka.”, ujarnya dengan tegas.

Aku tahu kali ini dia serius. Mungkin maksudnya sedang menegurku, untuk kesekian kali, agar aku nggak berharap sama orang yang salah. Salah dari kacamata dia sih, kalau menurutku mah bener-bener aja. But ya, aku lagi males nanggepin ini.

“Haish…”
“Semoga kamu juga segera dapet yang terbaik ya, Bi”
“Aammiin. I’m happy for you, Mas. Serius. Aku seneng tahu ini”
“Ya I know. Makasih ya…”

Kalimatnya sumbang, dia menyeruput teh tawar sebentar, kemudian melanjutkan kembali, 

“..makasih udah berbesar hati”
“Gitu doang”

“Bi, may I ask you more?”
“Hm?”
“Aku boleh tanya sesuatu nggak?”
“Go on”

Apaan sih nih orang, ngapain pake izin dulu gitu. Kan daritadi juga ngalir aja ngobrolnya.

“Mmm… kamu suka aku juga nggak sih, Bi… sebenernya?”
“What!”, seruku.

Dia menepuk lengan kananku, mungkin kaget karena aku baru saja melengkingkan nada bicaraku. Meningkatkan volume suaraku sekitar satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.

“Oh, nggak ya?”, tanyanya dengan muka hopeless.
“Hahahahahahaha”, kali ini aku seriusan ngakak. Ngakak lihat muka dia yang tadinya tua udah kayak bapak-bapak mendadak berubah menjadi balita brewokan yang nakal, pengin dijitak. Hopeless banget sih, Mas. Polos, lucu deh.
“Bi…serius lah”

Oke oke aku berhenti ngakak. Keadaan udah kembali netral, aman terkendali.

“Sempet sih”
“Ah!”, serunya. Kali ini dia yang berseru dengan nada tinggi, seolah puas banget kayak habis menangin lotre.

“Iya sih ya. Lagian siapa juga yang nggak suka aku, ya nggak?”, aku mengernyitkan alis. Jdieng. Ternyata orang ini sama sintingnya sama aku. Sama pedenya. Sama GRnya. Sama kayak dulu.
“Hahahahahahaha”, kami tertawa bersama-sama tanpa haluan.
“Bener banget Mas, bego kali ya kalau ada orang yang nggak suka sama Mas”

“…dan, Mas udah nemu orang yang lebih dari sekedar suka sama Mas sekarang”
“Thanks, Bi”
“Ehem”, aku mengangguk. Senang rasanya ngelihat orang ini bahagia.

“Bi,”
“Yaa?”

Dia agak memuletkan badannya. Pegel kali ya duduk di sini. Aku pun jadi ngikut. Meregangkan otot sebentar.

“Thankssss Bi, buat selama ini, buat semua ini…”
“Paan sih Mas, kayak aku mau kemana aja kalau Mas bilang gitu”
“Yaaa… nggak tau habis gini kamu mau kemana, habis gini kamu mau di mana, mau sama siapa, pokoknya aku say thanks dulu lah”
“Gitu tah, ya deh. Semoga lancar ya, Mas”
“He em, makasih ya”

Orang ini. Orang ini kadang bisa jadi sosok kakak bagiku. Tapi kakak yang kayak apa ya, bandelnya juga kadang bikin aku kesel. Dulu kami pernah nggak sapa-sapaan selama dua hari cuma gara-gara masalah sepele. Udah macem orang pacaran lagi berantem. Orang ini tuh, temen deket sih. Tapi dua tahun belakangan, nggak sedeket itu juga posisinya. Aku jarang mau chat duluan. Dia pun jarang menghubungiku kalau nggak ada perlu. Tapi mau selama dan sejauh apa, sekalinya kita ketemu temen deket rasanya juga bakal tetep deket, kan?

“Udah?”
“Udah, Bi”
“Lega?”
“Banget. Plong rasanya”
“Kamu?”
“Sama, Mas. Aku juga plong. Seneng. Seneng akhirnya kita bisa ketemu lagi. Seneng bisa nyempetin keluar sama Mas malem ini. Seneng tahu kondisi Mas sekarang. Seneng denger Mas yang finally punya nyali buat ngelamar anak orang. Oemji. Mas, Mas tua banget sih? Daaan, seneng benget sih denger dari telingaku sendiri kalau ternyata Mas suka sama aku. Aha! Serius, aku nggak nyangka lho Mas”
“Bi.., Bi. Nggak nyangka? Masa sih?”
“Emm, ya nyangka sih. Tapi… nggak nyangka juga sih. Em gimana ya, aku tuh, nggak bener-bener tahu sama kita. Aku tahu Mas gimana, aku tahu Mas sayang siapa, Mas juga tahu banget hatiku dibawa siapa. Tapi yang selama ini kita jalanin, kayak kalau ada apa-apa aku suka cerita ke Mas. Kalau Mas judrek buntu sama kerjaan, Mas suka cari-cari aku. Kita suka saling godain. Itu tuh kadang kayak… ya rasanya aneh aja kalau diterusin… feeling aja sih Mas kalau Mas kayaknya ada lah ya, dikiiiit aja perasaan ke aku”
“Kamu tuh, apa-apa difeelingin. Heran”
“Hehe… tapi bener kan?”
“Bener”

Malam ini, semuanya cair. Hangat, tetep hangat. Kami ngobrol sampai larut. Aku, yang tadinya mengeluhkan soal tempat duduk sampai nggak kerasa kalau punggungku mulai butuh sandaran. Beberapa cerita membuat kami merenung sejenak. Beberapa pengalaman membuatku beruntung sempat kenal sama orang model begini. Kuat, berprinsip, dan dewasa. Candaan dan tawa-tawa kecil terus kami lontarkan. Ceritanya, ceritaku, cerita kami dua tahun silam, cerita kami dua tahun belakangan, hampir semuanya.

Sepertinya, aku sampai lupa kalau lagi di kota ini aku harus patuh pada aturan pulang sebelum jam sepuluh. Tapi kulihat Casio Silver yang menggelangi tangan kiriku, jarum menunjukkan pukul dua kurang lima belas menit. Gila, ngobrol sama orang ini sampai ganti hari selalu kerasa belum cukup. Seperti pengin lebih lama. Tapi juga seperti pengin segera menyudahi. Seperti saling sadar kalau kami keterusan, ya bahaya.  

“Yuk”, dia beranjak lebih dulu, mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkatku, membersihkan sisa-sisa debu di pantatnya, kemudian tersenyum ke arahku.
“Yuk”

couples in city lights

Berduyun, kami mulai pergi dari tempat ini. Tempat yang sederhana, menunya murah, dan syahdu. Hanya jejak-jejak kaki kami yang tersisa. Nggak ada satu pun foto yang sempat kami ambil, nggak ada pula yang namanya bekas sampah berserakan dari apa yang kami makan. Dia selalu membawa kembali piring dan gelas kotor kepada penjualnya. Dia, mandiri dan bersihan.

Aku menatap lagi overview city lights itu sedikit lebih lama sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini. Seperti yang udah kubilang tadi, aku nggak tahu apakah someday bakal kembali atau ini kali terakhir aku ada di sini. Mungkin tempat ini nantinya cuma jadi cerita. Tempat ini bersejarah. Dulu, bagiku dan baginya, tempat ini adalah obat untuk stres sesaat. Ini tadi kami bukannya lagi stres, sekedar temu kangen atas kembaliku dari keputusanku untuk merantau sejak dua tahun yang lalu. Aku suka tempat ini. Ya, aku suka.

“Bi..”
“Ya, Mas?”
“Kamu luar biasa”

Ehm, rupanya dia masih belum cukup puas buat telling the truth bahwa dia mengagumiku. Ihir.

“Baik-baik ya, Mas. Bakal jadi kayak apa setelah ini, semoga your love and life journey nggak kalah asyik dari yang udah-udah”
“You too ya, Bi. Kalau ada apa-apa tetep cerita aja, calon istri udah tau kamu kok”
“Oh ya? Siaaap!”

Kunci mobil diputarnya ke kanan. Kedua tangannya sudah stand by di setir. Aku nggak tahu setelah ini kami masih bakal punya q-time apa nggak. Tapi bagiku ini cukup. Ini lebih dari cukup. Lepas kangen. Lepas, apa ya, perasaan kali ya. Ah, semua udah selesai. Semoga, semoga sekelibat doa dari ghibah-ghibah kami ini tadi ada yang teramini.

Mas, makasih ya.

❣❣❣

Surabaya, 13 September 2017. Fiksi. Another short story experiment.

No comments:

Post a Comment