Proposal.

danbo-hello-kitty

B : Em

Bukan bukan, aku nggak lagi nulis sebuah chord, nyoba-nyoba gitaran lagi sampai ngapal, apalagi mau bikin album. Tapi begitulah cara dia berdehem. Singkat. Berat. Seolah ada yang perlu dan harus banget dia katakan.

A : Hm?

Aku nggak sedingin Antartika, tapi kalau dia sudah begitu, responsku padanya hampir selalu begini. Acuh tapi gengsi. Pelit. Irit. Untung kudukung dengan mimik muka penuh tanya.

B : Kayaknya kita nggak sempet pacaran deh, jadi gimana kalau…

Satu dua detik dia ambangkan kalimatnya, merogoh sesuatu di sakunya. Mengeluarkannya tanpa terburu dan “klik”. Sebuah kotak kecil berwarna pink dibukanya. Di dalamnya, ada cincin putih dengan motif lekukan sederhana, dipermanis dengan satu permata putih tipis yang letaknya cenderung ke kanan. Entah emas atau bukan, tapi sepertinya itu cukup pricey.

B : hidup bersama selamanya.

Ujarnya. Ya, aku sengaja menulis tanpa tanda tanya, tapi sebuah titik di akhir tiga kata yang seketika bikin aku merinding itu. Dia seolah nggak lagi menanyakan persetujuanku, tapi dengan mantap menyatakan. Berbicara dengan kedua bola matanya yang menatapku yakin.

Deg.
Freeze. Jantungku berdegup jauh lebih kencang dari sedetik yang lalu. Untung aku nggak latah sampai bilang “e copot e copot”. Bulu kudukku berdiri, bukan karena tempat ini tapi karena suara nge-bass-nya, caranya menyampaikan, matanya, duh, semuanya. Senyumku melebar. Mungkin wajahku memerah. Tapi mataku, drops a tear. Tangan kananku menutup mulut, sesekali menyeka air mataku. Masih nggak percaya sama apa yang barusan dia katakan. Entah raut seperti apa yang sedang kupasang. Bahagia, haru, heran, bauran yang sungguh nggak gampang dideskripsikan. Yang jelas, sepatah kata pun belum bisa kuproduksi. Speechless, sumpah!

Nggak ada kesempatan bagiku buat nolak.
Dasarnya cengeng apa emang sudah ditakdirkan begini, tangisku makin bancar. Sesenggukan. Duh, respons macam apa ini. Aku belum juga mengeluarkan kata. Dia memelukku. Aku balas erat-erat peluknya. Diam, hanya suara tangis dan tawa kecil kami. Se-random itu memang suasananya.

Aku meraih pelan cincin itu dari kotak pink di tangannya. Memutar-mutar dan melihatnya dengan pikiran yang padahal tidak sedang menguji apapun dari cincin itu. I don’t have any idea about that ring. Aku cuma sedang menikmati momen ini.

Bismillahirrahmanirrahim, batinku.

A : Mas,

Udah! Gitu aja.
Sip, akhirnya mulutku bisa mengeluarkan kata. Tapi emang cuma satu kata itu. Cuma itu. Ringan banget keluarnya. But hhzzz. Shit, kalau ini adalah adegan ngelamar di film-film, udah pasti nggak lolos kurasi. Apa-apaan aku ini. Bukankah aku sudah mengantongi sekian banyak cerita cinta tentang lamaran? Bahwa yang kutahu, biasanya lelaki itu mulek bin njelimet banget mikirnya buat nyatain perasaannya, apalagi sampai ngelamar. Dan bisa-bisanya responsku secemen itu, se-nggak jelas itu. Duh, aku ini.
Eh wait, tapi aku emang nggak harus bilang “iya” kan? Dia pasti udah tahu kan aku jawab apa?  

Dia senyum. Senyum dengan simpul termanis yang ehm, probably I’ll never forget. Dia merangkulku, gadis payah ekspresif-less yang betah meneteskan air mata padahal lupa bawa tisu. Eh untung nggak sampai meler ya. Akan sangat menjijikkan cerita ini kalau influenzaku kambuh. Praise God untuk fisik yang fit hari ini.

Pandangan kami beralih lagi pada nisan itu. Nisan yang sudah sekitar lima tahun lalu berdiri di makam ini. Adanya nisan ini membuatku kagum sama dia. Bagiku, dia sosok yatim yang sangat kuat. Apa-apa dia meskipun dia bukan lelaki satu-satunya di keluarganya, yang notabene setelah ini adalah keluargaku juga. Pun dengan aku, yang belakangan ini hampir selalu apa-apa dia.

Mungkin dia berdoa, lagi. Meskipun nggak selebar di tab images Google ketika mengetikkan keyword “orang sedang berdoa”, tapi aku bisa melihat tangannya menengadah. Aku, kurang lebih sama. Aku juga diam terpaku ke nisan itu. Tapi kali ini batinku lebih cerewet, aku nggak cuma berdoa, lebih tepatnya aku bercerita. A small talk with the person inside the nomb. Betapa campur aduknya perasaanku detik ini. Betapa bahagianya aku. Betapa nggak nyangkanya aku kalau dia menginginkanku untuk menjadi pendaming hidupnya. Betapa gilanya aku karena nggak bisa handle situasi ini dengan lebih romantis. Betapa saat ini aku merasa aku adalah wanita paling beruntung di muka bumi.
Dad, can you hear me? I’m so damn on velvet! Your menantu soon to be! Your boy just proposed me in a fine-tune, whatta.. whatta very super duper happy me!

Sekian menit kami gunakan untuk menyelesaikan urusan kami masing-masing denganNya and off course dengan orang luar biasa hebat yang jiwanya sudah dipanggilNya duluan ini. Lili, melati, dan beberapa bunga berwarna hijau yang aku kurang tahu namanya sudah kami taburkan. Bersama beberapa mili air sudah kami kucurkan. Usuk-usuk nisan, ciuman hangat, dan tangisku pecah lagi. Rasanya pengin salim langsung dan cium tangannya, aku masih merasa beliau ada di sini, meskipun nyatanya aku harus berbesar hati kalau raganya tak lagi ada. Kami pamit untuk kembali.

Aku tak lagi berjalan setapak demi setapak sambil dituntun, tak lagi merasa tempat ini adalah antah berantah yang sangat gelap seperti tadi. Ya, aku berangkat dengan mata tertutupi kain hitam pekat, ikatannya cukup rapat, membuat mataku hampir buta, kalau itu adalah mulut bisa dipastikan aku sudah nggak bisa nafas. Dia menuntunku sabar. Sepanjang jalan, aku nggak melepas cakaranku ke tangan kanannya. Tangan kirinya membawa sesuatu yang entah apa, feeling dia ngebawa sesuatu itu karena dia mengarahkanku hanya dengan satu tangan. Belakangan aku tahu, ternyata dia bawa bunga dan sebotol air.

Sebelum memaksa menutup mataku, dia bilang kalau kami akan traveling. Pergi ke suatu tempat yang jauh dari kata indah, tempat yang bener-bener biasa aja dan palingan aku juga nggak akan terkesan, katanya. Aku sih nurut. Tapi aku juga nggak bego, kalau biasa aja ngapain harus ada acara tutup mata segala gini sih, pikirku.

Kami berjalan ke arah parkiran, jari-jari kami saling menggenggam, jangan punya pikiran kalau kami lagi bermesraan di kuburan ya. Karena meskipun berjalan berdampingan, kami sama sekali nggak saling menatap manja-manjaan. Pelan-pelan aku sadar bahwa di hari yang merupakan momen terbahagiaku so far ini, masih sempet-sempetnya dia bohongin aku.
Iya, bohong. Bohong kalau ini adalah traveling yang biasa, bohong kalau ini adalah tempat biasa, bohong kalau nggak ada kesan sama sekali.
He’s the best liar I’ve ever known, I guess.

Sederhana aja emang, tapi gimana nggak berkesan coba. Aku berani sumpah, sampai cucuku seribu pun aku pasti masih bisa menceritakan kejadian dengan detail bagaimana momen engkungnya dulu melamar utinya ini. Aku berani bersangsi pada dunia dan seluruh isinya, bahwa ini adalah lamaran ter-lovely versi apapun! Nah tuh kan aku mulai lebay. Ngah, persetan sama lebay. Namanya juga orang jatuh cinta dan lagi dilamar, ya pasti berbunga-bunga. Biarin deh. Sesekali berlebihan nggak bakal dosa kali ya?

Hemh. Sebelum membuka pintu mobil, aku tatap dalam-dalam matanya, senyum semanis yang aku bisa walaupun sebenarnya aku nggak begitu PD kalau aku ini manis atau cantik, maluuuuu banget rasanya.

Kamu, kamu itu emang paling bisa ya. Aku tahu sehabis hari ini perjalanan kita nggak bakal gampang. I can’t promise I can fix your problem, but I promise you won’t face it all alone. Makasih ya buat proportional proposal-nya. Makasih banyak. Aku suka. I do want to be yours like I do want you to be mine. I do.

❣❣❣

Malang, August 26th 2017. Indonesian short story, first experiment.
image via amazon.com

No comments:

Post a Comment