Mana Ikhtiar Terbaikmu?

ikhtiar terbaik

Belakangan, saya dihebohkan dengan satu pertanyaan sialan tersebut. Hanya tiga kata. Pertanyaan yang sepintas lalu saya dengar dari sebuah mimbar. Pertanyaan yang terlintas ketika diam-diam kepikiran tentang jodoh kerjaan.

Kok lagi-lagi tentang kerjaan sih, Cil?
Iyai. Lha gimana. Kejadian sekitar memaksa saya untuk terus menghadapi kenyataan bahwa mencari nafkah tidak semudah mencari-cari kesalahan orang lain. Saya sadar kalau makin ke sini, saya makin banyak maunya. Sampai-sampai, anjuran resign atau jadi defender pun datang silih berganti. 

Hampir setiap hari saya ngelihatin kalender. Bergumam, "Kapan ya bisa kaya raya?"
I'm bad in prediction. Bau-baunya sih, masih lama. Belum nampak tanda-tanda saya mendadak ningrat. Pfft. Pemikiran macam apa ini. Fools. Mengharapkan sesuatu terbaik tanpa ada ikhtiar terbaik itu fools. Mana ada?

"Iya dijalani aja apa yang ada sekarang sambil berdoa.."

Kalimat barusan cuma copast dari chat yang dilayangkan pada pukul 13.27 siang tadi. Yeah, advice yang sebenernya sangat B aja tapi mayan tokcer. Saya yakin, kalau empunya kalimat itu baca tulisan ini, pasti udah ke-PD-an. Pasti udah Ke-GR-an. Hmm.
Nanging piye ya. Ya bener sih, ujung-ujungnya, saya—dan mungkin kamu yang mengalami hal serupa—mau nggak mau harus tetap menjalani apa yang ada. Sambil, berdoa dan melakoni ikhtiar terbaik. 

Ikhtiar terbaik versimu emang kayak gimana, Cil?
Ikhtiar terbaik versi saya adalah dengan memblokir seluruh jalan kecil di kamar yang sekiranya bisa dilalui kecoak, pakai koran. Kemudian, selalu sedia HIT semprot aroma lavender. Membeli kapur seharga Rp 16.000,- di Indomaret dan mencoretkannya di setiap pojok kusen jendela dan pintu. Understanding fakta-fakta rinci seputar kecoak seperti doi seneng gelap, doi otaknya di seluruh tubuh, doi cuma bisa mati karena kelaparan, doi nggak bisa membalikkan tubuhnya sendiri, etc. Serta, menjalani terapi digital yang entah, ngefek apa nggak.
Ehehe. Barusan cuma contoh sih. Itu dulu yang bisa saya share. Itu, ikhtiar terbaik saya dalam rangka memerangi katsaridaphobia. 

Sebagai pekerja teks komersial amatiran dan sesekali nyambi kerjaan Digital Marketing, saya sedang menggalakkan strategi baru dalam belajar yang menunjang pekerjaan. Strategi inilah yang kemudian saya anggap sebagai ikhtiar terbaik saya, setidaknya untuk saat ini. Eh tapi, nggak mau bocorin dulu ah strateginya apa. Takut fail. Nanti deh, kalau udah hasyil baru saya usahain bakal tulis di blog ini

Sekarang, kamu dan saya saling mendoakan aja ya, semoga apa-apa yang sedang kita usahakan, dilancarkan. InshaAllah, hasil nggak bakal mengkhianati usaha kan ya? 

Whenever you are, be the best version of you.


ps: Iya jarinya item. Surabaya panas, Cuy. 

No comments:

Post a Comment