Sakit Hati itu...

sakit hati itu

Enggak, enggak mau ngomongin tentang asmara kok. Soalnya nggak ada topik tentang asmara yang menarik yang layak diceritakan. Hm, asmara saya lebih tepatnya. Hm, belum ada lebih tepatnya. Nggak pakai lama, mari ambil premis utama saya: sakit hati.

Sakit hati itu wajib

Most writers who hesitate to share their work fear judgment and rejection. If you don't show anyone, you can't get feedback. If you don't get feedback, you can't get hurt. - Eddie Shleyer
Saya pernah mengira-ngira kalau jangan-jangan, saya ini kena imposter syndrome. Nggak percaya sama kemampuan diri sendiri. Takut karyanya hasil kerjanya dilihat orang. Sampai pada suatu ketika di suatu interview, saya dapet insight kalau kegiatan tulis-menulis bikin konten itu cuma 20%, 80% sisanya adalah kegiatan make it viral. Nah kelemahan saya ini, bikin konten mulu nggak mau ada usaha buat memviralkan.

Padahal, make it viral itu menyempurnakan kegiatan Digital Marketing, kegiatan yang sedang saya geluti saat ini. Bedah jejak kenapa saya nggak pengin memviralkan. Dipikir. Dianalisa. Usut punya usut, salah satunya mungkin, mungkin lho ya, mungkin, karena saya takut sakit hati. Bukan karena imposter syndrome. Padahal ya, sakit hati itu pasti, sakit hati itu perlu, sakit hati itu wajib malah. Kalau nggak sakit hati, nggak bakal tahu sudah sejauh mana keberhasilan dalam menulis.

Slow but sure, I experience it. Mengambil sedikit nyali buat posting di Instagram Stories kalau saya punya blog dengan domain sendiri. Bikin tulisan. Ikutan lomba. Dan meng-highlight-nya sampai saat ini. And the results was totally surprise me. It works! Ya, it works! Setidaknya beberapa orang bertanya apakah saya menyediakan jasa freelance content writer apa enggak. Hehe, absolutely yes!

Sakit hati itu hak

Ada percakapan menarik antara seorang lelaki dengan ustaznya.

"Ustaz, saya pernah melukai dan mengecewakan hati seorang perempuan. Dia belum mau memaafkan saya. Kalau saya terus mendoakan dia, apakah mungkin dia memaafkan saya? Kalau dia nggak kunjung mau memaafkan saya, apa yang harus saya lakukan?"

"Kalau memang betul kamu benar-benar menzhaliminya, berarti hak dia untuk tidak mau memaafkanmu. Kamu menyakiti hatinya, hak dia untuk memelihara sakitnya. Ya berdoa saja, berdoa, tanpa sepengetahuan dia. Semoga kelak Allah berkenan menebus kezhaliman tersebut dengan rahmatNya"

Seseorang telah dikecewakan. Hak dia mau sakit hati sampai kapan. Hak-hak dia mau sedih sampai kapan. Tugas kita sebagai kontributor dalam sakit hatinya? Ya, mendoakan. Mengakui kesalahan. Meminta maaf. Mendoakan. Doakan, kalau bisa dianya jangan tahu. Pan katanya, tanda cinta paling dalam adalah saat kamu mendoakan diam-diam. Ecie. Bener nggak sih? Prikitiu.


مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Kesambet apa Cil kok tiba-tiba ngomongin Sakit Hati?

work from home

Kagak. It's my very first day of absence in my (not so) new office. Meliburkan diri. Lagi sakit bengek dan entahlah, terbangun dengan selemah-lemahnya semangat. Sepertinya, hari ini bakal keasyikan work from home. Literally home. Bukan di kosan. Bercemilkan Trifle Cake dan sebongkah Makaroni Melek. I don't waste my wasting time. Well, enjoy the pink marks on this post ya. Dear kamu yang lagi bertebaran di muka bumi dan mungkin lagi sakit hati, semoga lekas sembuh!

No comments:

Post a Comment