Merayakan Pengorbanan



Cepat sekali, waktu berlalu.
Tahun lalu, masih awam. Oh! Sangat awam bahkan. Awam dengan kamu kota ini.
Masih raba-raba, nggak terlalu tahu betul di mana stasiunnya.
Sepanjang perjalanan, saya ikuti rel kereta. 
As long as ada rel, berarti di situ nantinya ada stasiun.
Malam takbiran, di perjalanan. Pelan-pelan. Macet soalnya.
Adzan Maghrib di kemacetan.
Alhamdulillah, masih sempat berbuka*. Pakai air mineral dari tumbler yang selalu saya taruh di jok motor.
Selalu. Se la lu. Kecuali, hari ini.

Hari ini. Malam takbiran kedua di tanah rantau.
Sudah, iyain aja kalau saya sebut tanah rantau. Saya sudah pernah bercakap tentang itu, di sini.

Hari ini, tumbler saya ketinggalan di kos.
Saya batal puasa*. Batal, ya batal. Masa iya kamu nggak tahu penyebabnya?
Batalnya tadi pas masih di kantor. Dehidrasi? Enggak.
Sengaja saya siapkan gelas hello kitty di meja kerja kantor. Mana tahu, tumbler saya ketinggalan.
Dan bener. Kejadian juga kan akhirnya: tumbler ketinggalan.

Sampai mana tadi?
Oh iya. Malam takbiran. Ini adalah malam takbiran kedua saya di tanah rantau.
Takbiran Idul Adha.
Harus dirayakan, diabadikan, diperingati.
Memperingati pula, satu tahun saya merantau. Satu tahun lebih 7 hari, exactly.
Sek bentar. Selebrasi dulu: Yehee!! Saya berhasil merantau!!!

Malam takbiran kali ini, tentu sudah aneh kalau dibilang awam.
Saya hafal jalan dari kos ke stasiun.
Di luar kepala. Nggak pakai google maps. Ng... nggak sambil merem juga sih, bahaya soalnya.
Jalanan juga nggak macet. Alhamdulillah.
Saya... ah banyak lah.

Ini lagi mau mudik. Mudik naik kereta api. Tut tut tut. 
Entah sudah berapa kali naik kereta api, tapi sampai sekarang saya belum pernah melihat di mana apinya.

Hari Raya Idul Adha sama dengan merayakan pengorbanan.
Saya salut dengan teman dan keluarga saya yang berkorban untuk enggak mudik.
Untuk tetap bekerja, untuk pada kepentingan dan keperluan lain.
Sehingga harus mengorbankan sedapnya makan sate, rawon, dan krengsengan bikinan orang tua.
Sejauh ini, yang paling juara adalah bikinan ibu saya.
Kamu enggak boleh protes. Kalau mau protes, ya sana, bikin blog sendiri.

Saya belum ada di fase enggak mudik.
Sebeneranya bisa ada pun, saya tetep maunya mudik aja. Hahaha?

Merayakan pengorbanan.
Tahun lalu, korban perasaan hahaha asem.
Tahun ini, korban... korban... korban apa ya? korban modus gombalan mas... sensor. Apasih Cil? Geje pol.
Korban atau qurban yang dirayakan di Idul Adha itu ya banyak banget.
Nggak cuma harta. Aduh, banyak lah. Kalau saya jelaskan di sini, jadi kayak siraman rohani.

Wis pokoknya. Selamat merayakan pengorbanan, bagi teman-teman yang berkorban.
Pengorbanan ini harus dirayakan, soalnya, ada balasan.
Balasannya apa? Nggak tahu lah. Rahasia Illahi.
Minimal, dibalas dengan Hari Raya ini saja dulu.
Banyak kesenangannya. Banyak nikmatnya.
Kalau belum kerasa, minimal bersyukur aja soalnya gegara Hari Raya jadi tanggal merah. Jadi libur.
Libur bagi beberapa kantor termasuk kantor saya. Ya meskipun cuma sehari. Disyukuri bisa libur.

Sudah ya.
Kereta sudah mau berangkat.
Saya harus masuk.

Selamat malam.

pemandangan pas lagi nulis ini

*) Puasa sebelum Idul Adha yang dimaksud di sini adalah Puasa Arafah. Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah. Hari Arafah, adalah hari mustajabnya doa-doa. Saya sebut nama kamu dalam doa saya. Hari ini. Kemarin. Kemarinnya lagi. InshaAllah besok juga. Dan besok lusa. Dan selalu. Semoga, kali ini. Arafah kali ini, doa saya dikabulkan: Semoga pengorbanan kita, bisa suatu saat dirayakan.

Stasiun Wonokromo, August 21 2018.

No comments:

Post a Comment